Jepang kembali mengambil langkah besar dalam kebijakan energinya. Pada Senin, 9 Februari 2026, negara tersebut resmi mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di dunia, Kashiwazaki-Kariwa, yang terletak di Prefektur Niigata.
Pengaktifan ini menjadi sorotan internasional karena fasilitas tersebut sempat berhenti beroperasi selama lebih dari satu dekade sejak tragedi Fukushima 2011. Keputusan ini sekaligus menandai babak baru bagi Jepang dalam mengandalkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menghadapi krisis energi global dan target netral karbon.
Tokyo Electric Power Company (TEPCO), operator pembangkit, menyatakan bahwa reaktor mulai beroperasi kembali pada pukul 14.00 waktu setempat setelah masalah teknis ringan yang sebelumnya menghambat restart berhasil ditangani.
Restart yang Sempat Tertunda Akibat Gangguan Alarm
Upaya mengaktifkan kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa sebenarnya sudah dimulai sejak Januari 2026. TEPCO sempat menyalakan salah satu dari tujuh reaktor di kompleks tersebut pada 21 Januari.
Namun, pengaktifan perdana itu harus dihentikan keesokan harinya setelah sistem alarm pemantauan berbunyi.
Alarm tersebut mendeteksi perubahan kecil pada arus listrik di salah satu kabel. Meski nilainya masih berada dalam batas aman, TEPCO memilih langkah konservatif dengan mematikan kembali reaktor untuk memastikan tidak ada risiko yang lebih besar.
Dalam konferensi pers pekan lalu, pejabat TEPCO menjelaskan bahwa masalah tersebut sudah ditangani dengan menyesuaikan pengaturan alarm, sehingga reaktor dinyatakan aman untuk dioperasikan kembali.
Langkah ini menunjukkan betapa ketatnya prosedur keselamatan yang diterapkan Jepang pasca-Fukushima.
Operasi Komersial Dijadwalkan Mulai Maret
Meski reaktor sudah kembali aktif, TEPCO menegaskan bahwa operasi komersial penuh baru dijadwalkan dimulai pada atau setelah 18 Maret 2026.
Sebelum masuk tahap produksi energi secara komersial, pembangkit masih harus menjalani inspeksi tambahan yang menyeluruh.
Kashiwazaki-Kariwa dikenal sebagai PLTN terbesar di dunia dari sisi kapasitas potensial. Kompleks ini memiliki tujuh reaktor, meskipun saat ini baru satu yang diaktifkan kembali.
Jika seluruh unit beroperasi penuh, pembangkit ini dapat memasok listrik dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan industri dan rumah tangga Jepang.
Nuklir Kembali Jadi Andalan Jepang
Restart Kashiwazaki-Kariwa bukan sekadar keputusan teknis, melainkan simbol perubahan arah kebijakan energi Jepang.
Sejak tragedi Fukushima Daiichi pada 2011, Jepang menghentikan seluruh pembangkit nuklirnya. Keputusan itu diambil setelah gempa bumi besar dan tsunami memicu melelehnya tiga reaktor, menciptakan krisis nuklir terburuk dalam sejarah modern.
Namun kini, situasi global berubah. Jepang menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan energi domestik, terutama dengan meningkatnya permintaan listrik dari sektor teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan pusat data.
Selain itu, Jepang juga ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mencapai target netral karbon pada 2050.
Energi nuklir kembali dilihat sebagai opsi penting untuk mencapai tujuan tersebut.
Dukungan Politik dari Pemerintah Konservatif
Perdana Menteri konservatif Sanae Takaichi, yang baru saja meraih kemenangan besar dalam pemilu, dikenal sebagai pendukung kuat kebijakan energi nuklir.
Pemerintahannya mendorong pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi stabil yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Jepang.
Restart Kashiwazaki-Kariwa menjadi unit pertama yang dioperasikan kembali oleh TEPCO sejak 2011. Ini juga penting karena TEPCO adalah perusahaan yang sama yang mengelola PLTN Fukushima Daiichi, yang hingga kini masih dalam proses pembongkaran.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Jepang mencoba membangun kembali kepercayaan publik dan dunia internasional terhadap industri nuklirnya.
Reaktor Jepang yang Sudah Kembali Beroperasi
Sejak penghentian pasca-Fukushima, Jepang secara bertahap mulai menghidupkan kembali sebagian reaktor di bawah aturan keselamatan yang jauh lebih ketat.
Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat 14 reaktor di Jepang telah kembali beroperasi, dengan 13 di antaranya masih berjalan.
Sebagian besar reaktor yang aktif berada di wilayah barat dan selatan Jepang.
Restart Kashiwazaki-Kariwa memperkuat tren bahwa Jepang secara perlahan mengembalikan nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional.
Peningkatan Sistem Keselamatan di Kashiwazaki-Kariwa
Untuk menjawab kekhawatiran publik, kompleks Kashiwazaki-Kariwa telah dilengkapi dengan berbagai peningkatan keselamatan besar, di antaranya:
- Dinding penahan tsunami setinggi 15 meter
- Sistem pasokan listrik darurat yang ditinggikan
- Penguatan struktur reaktor terhadap gempa
- Prosedur inspeksi dan regulasi yang lebih ketat
TEPCO menyatakan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap tahap pengoperasian.
Opini Publik Terbelah di Niigata
Meski pemerintah dan TEPCO mendorong restart, opini publik di sekitar lokasi pembangkit masih terpecah.
Survei pemerintah Prefektur Niigata pada September menunjukkan sekitar 60 persen warga menentang pengaktifan kembali, sementara 37 persen mendukung.
Penentang restart menyoroti kekhawatiran akan risiko kecelakaan besar, riwayat skandal penutupan informasi, serta rencana evakuasi yang dianggap belum memadai.
Pada 8 Januari, tujuh kelompok penentang menyerahkan petisi dengan hampir 40.000 tanda tangan kepada TEPCO dan Otoritas Regulasi Nuklir Jepang.
Namun TEPCO tetap menegaskan komitmennya bahwa keselamatan adalah prioritas utama.
Kesimpulan: Nuklir dan Masa Depan Energi Jepang
Pengaktifan kembali PLTN Kashiwazaki-Kariwa menjadi langkah penting dalam perjalanan Jepang membangun strategi energi baru pasca-Fukushima.
Dengan kebutuhan listrik yang meningkat, target netral karbon 2050, serta dorongan pemerintah konservatif, energi nuklir kembali menjadi pilihan strategis.
Namun, tantangan besar tetap ada, terutama dalam membangun kembali kepercayaan publik yang masih dihantui trauma Fukushima.
Restart Kashiwazaki-Kariwa bukan hanya soal energi, tetapi juga tentang bagaimana Jepang menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, keselamatan, dan masa depan lingkungan dalam satu keputusan besar.
Baca juga :Meriyati Hoegeng Wafat, Teladan Kesederhanaan
Cek Juga Artikel Dari Platform : cctvjalanan

