Kelompok Pertama Tiba di Rafah
Kelompok pertama warga Palestina yang kembali dari Mesir tiba di area Penyeberangan Rafah pada Senin, 2 Februari 2026. Kedatangan ini menandai perkembangan penting setelah perlintasan tersebut tertutup sepenuhnya selama lebih dari satu setengah tahun akibat pembatasan ketat oleh Israel.
Laporan ini disampaikan oleh saluran televisi Al-Qahera News, yang menyebutkan bahwa rombongan warga Palestina telah mencapai terminal perlintasan. Rekaman video yang beredar menunjukkan puluhan warga berkumpul di area Rafah, meski hingga saat ini mereka belum sepenuhnya memasuki wilayah Jalur Gaza.
Operasional Uji Coba Setelah Penutupan Panjang
Sisi Palestina dari Penyeberangan Rafah mulai kembali beroperasi secara uji coba pada Minggu, sehari sebelum kedatangan rombongan tersebut. Penyeberangan ini sebelumnya ditutup total selama lebih dari 18 bulan sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik dan pembatasan militer.
Penutupan panjang Rafah menjadikan jalur ini simbol terputusnya akses utama warga Gaza ke dunia luar, khususnya untuk kebutuhan medis, pendidikan, dan kemanusiaan. Kembalinya operasional, meski terbatas, dipandang sebagai secercah harapan di tengah krisis yang berkepanjangan.
Puluhan Warga Diperkirakan Masuk Gaza
Mengutip laporan Anadolu Agency, media Israel memperkirakan sekitar 50 warga Palestina akan memasuki Gaza melalui Rafah dalam tahap awal ini. Sementara itu, sekitar 150 pasien beserta pendamping mereka dijadwalkan meninggalkan Gaza menuju Mesir untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan.
Pergerakan dua arah ini mencerminkan kondisi darurat kesehatan di Gaza, di mana fasilitas medis lokal telah lumpuh akibat kerusakan infrastruktur dan keterbatasan pasokan obat-obatan.
Ribuan Pasien Masih Menunggu Akses Medis
Pejabat kesehatan di Gaza memperkirakan hampir 22.000 pasien masih menunggu pembukaan penuh Penyeberangan Rafah agar dapat memperoleh akses perawatan medis di luar wilayah tersebut. Banyak dari mereka merupakan korban luka perang, penderita penyakit kronis, serta pasien yang membutuhkan tindakan medis lanjutan yang tidak dapat ditangani di Gaza.
Penutupan Rafah selama berbulan-bulan telah memperparah krisis kesehatan. Banyak pasien dilaporkan meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan medis dan tidak adanya akses keluar wilayah.
Israel Kuasai Sisi Palestina Sejak Mei 2024
Israel diketahui telah menguasai sisi Palestina Penyeberangan Rafah sejak Mei 2024. Langkah tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi militernya di Gaza yang dimulai sejak Oktober 2023 dan terus berlanjut dengan berbagai fase eskalasi.
Penguasaan ini membuat Mesir tidak dapat membuka perlintasan secara penuh tanpa koordinasi militer, sehingga mempersempit ruang gerak kemanusiaan dan diplomatik di kawasan perbatasan.
Gencatan Senjata yang Tidak Berjalan Konsisten
Selama masa gencatan senjata pada Januari 2025, Israel sempat membuka kembali Penyeberangan Rafah secara terbatas. Kebijakan itu memungkinkan sejumlah pasien dan warga Palestina yang terluka keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri.
Namun, kebijakan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah operasi militer kembali dilanjutkan pada Maret 2025, penyeberangan Rafah kembali ditutup, memutus kembali jalur kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.
Israel sejatinya diwajibkan membuka kembali Rafah pada fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025. Namun, kewajiban tersebut dilaporkan tidak dijalankan sesuai kesepakatan.
Dampak Kemanusiaan yang Sangat Besar
Dengan dukungan Amerika Serikat, operasi militer Israel di Gaza dilaporkan telah menewaskan sekitar 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Selain korban jiwa, sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza dilaporkan hancur atau rusak berat, termasuk rumah sakit, sekolah, sistem air bersih, dan jaringan listrik. Kehancuran ini membuat Gaza hampir tidak memiliki kapasitas untuk menopang kehidupan normal.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Hambatan Bantuan
Israel juga dilaporkan melakukan pelanggaran gencatan senjata hampir setiap hari. Serangan-serangan tersebut disebut telah menewaskan sedikitnya 523 warga Palestina sejak kesepakatan berlaku, sekaligus menghambat masuknya bantuan kemanusiaan yang seharusnya dijamin oleh perjanjian.
Hambatan terhadap bantuan ini memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza, di mana sekitar 2,4 juta penduduk kini hidup dalam kondisi darurat, kekurangan pangan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak.
Rafah sebagai Simbol Harapan dan Tekanan Internasional
Penyeberangan Rafah kini kembali menjadi simbol penting dalam konflik Gaza. Di satu sisi, pembukaannyaโmeski terbatasโmemberi harapan bagi warga Palestina yang terjebak. Di sisi lain, keterbatasan akses menunjukkan betapa rapuhnya jalur kemanusiaan di tengah konflik geopolitik.
Tekanan internasional terhadap Israel terus meningkat agar membuka Rafah secara penuh dan memungkinkan arus bantuan serta evakuasi medis berjalan tanpa hambatan. Mesir, bersama sejumlah aktor internasional, terus mendorong agar penyeberangan ini difungsikan sebagai jalur kemanusiaan murni.
Menanti Pembukaan Penuh Penyeberangan Rafah
Kedatangan kelompok pertama warga Palestina dari Mesir ke Rafah menjadi perkembangan penting, namun belum cukup untuk menjawab besarnya kebutuhan kemanusiaan di Gaza. Ribuan pasien masih menunggu, jutaan warga masih terisolasi, dan krisis terus berlanjut.
Pembukaan penuh Penyeberangan Rafah kini menjadi salah satu tuntutan utama komunitas internasional. Tanpa akses tersebut, penderitaan warga Gaza dikhawatirkan akan terus memburuk, sementara solusi politik masih belum menemukan titik terang.
Baca Juga : Prabowo Segera Luncurkan Gerakan Indonesia ASRI
Cek Juga Artikel Dari Platform :ย zonamusiktop

