Hujan Lebat Landa Pegunungan Muria

Curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan Pegunungan Muria dan sekitarnya, menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kudus. Hujan deras yang turun sejak Jumat tersebut memicu meningkatnya debit sejumlah sungai utama hingga meluap dan merendam permukiman warga di wilayah hilir.

Fenomena ini bukan hanya berdampak pada satu kawasan, melainkan menyebar ke berbagai kecamatan dengan karakteristik wilayah yang berbeda, mulai dari kawasan perkotaan hingga daerah perbukitan. Kondisi tersebut memperlihatkan tingginya kerentanan wilayah Kudus terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim hujan dengan curah ekstrem.

Sungai Meluap Rendam Permukiman Warga

Luapan air tercatat terjadi di sejumlah sungai, antara lain Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe. Meluapnya aliran sungai tersebut menyebabkan genangan air di kawasan permukiman warga, merendam rumah, jalan lingkungan, serta fasilitas umum.

Banjir dan limpasan sungai tercatat terjadi di empat kecamatan, yakni Kecamatan Kudus Kota, Kecamatan Mejobo, Kecamatan Jekulo, dan Kecamatan Bae. Air menggenangi rumah warga dengan ketinggian bervariasi, menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh sementara.

Puluhan Titik Longsor di Wilayah Perbukitan

Selain banjir, hujan deras juga memicu tanah longsor di wilayah perbukitan. Puluhan titik longsor dilaporkan terjadi di Kecamatan Dawe, Kecamatan Gebog, dan kembali meluas ke Kecamatan Bae. Longsor terjadi di lereng-lereng curam, bahu jalan, hingga dekat permukiman warga.

Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji, menyampaikan bahwa kondisi tanah yang jenuh air menjadi faktor utama terjadinya longsor. Material tanah, bebatuan, dan pohon tumbang menutup akses jalan desa serta mengancam keselamatan warga.

“Banjir dan limpasan sungai terjadi di empat kecamatan, sementara puluhan titik longsor tersebar di Dawe, Gebog, dan Bae,” ujar Ahmad Munaji.

Respons Cepat BPBD dan Tim Gabungan

Menindaklanjuti situasi darurat tersebut, BPBD Kudus bersama tim gabungan langsung melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan. Petugas dikerahkan untuk membantu evakuasi warga di titik rawan, membersihkan material longsor, serta membuka akses jalan yang tertutup.

Koordinasi dilakukan dengan perangkat desa, relawan, TNI-Polri, serta instansi terkait lainnya. Fokus utama penanganan adalah memastikan keselamatan warga, meminimalkan risiko longsor susulan, dan mempercepat pemulihan akses transportasi serta aktivitas masyarakat.

Pemkab Kudus Tetapkan Siaga Penuh

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kudus bergerak cepat dengan mengerahkan seluruh perangkat daerah. Ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk turun langsung ke lapangan dan bersinergi dalam penanganan bencana.

“Kami tidak ingin penanganan lambat. Semua OPD saya minta turun ke lapangan, berkoordinasi, dan memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi,” tegas Sam’ani.

Pemkab Kudus juga menyiagakan posko darurat untuk memantau perkembangan situasi serta menyalurkan bantuan logistik apabila diperlukan. Langkah ini diambil untuk memastikan warga terdampak mendapatkan penanganan cepat dan tepat.

Keselamatan Warga Jadi Prioritas Utama

Dalam situasi bencana, keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Pemkab Kudus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng perbukitan. Warga diminta segera melapor jika melihat tanda-tanda longsor seperti retakan tanah, pohon miring, atau aliran air yang tidak biasa.

Petugas juga disiagakan untuk memantau debit sungai secara berkala guna mengantisipasi potensi banjir susulan, mengingat curah hujan diperkirakan masih berpotensi tinggi di wilayah Pegunungan Muria.

Dampak Sosial dan Aktivitas Warga

Banjir dan longsor ini berdampak langsung pada aktivitas sosial dan ekonomi warga. Sejumlah jalan desa tidak dapat dilalui, distribusi barang terganggu, serta aktivitas sekolah dan perdagangan terpaksa terhenti sementara. Di wilayah longsor, warga diminta mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga kondisi dinyatakan stabil.

Meski demikian, belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini. Pemerintah daerah berharap situasi dapat segera terkendali agar masyarakat dapat kembali beraktivitas normal.

Evaluasi dan Mitigasi Jangka Panjang

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya upaya mitigasi bencana di wilayah rawan seperti Kudus. Daerah dengan kontur pegunungan dan aliran sungai besar membutuhkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, termasuk perbaikan drainase, penguatan tebing sungai, serta pengendalian alih fungsi lahan di kawasan hulu.

Pemkab Kudus menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik rawan banjir dan longsor. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang, seiring dengan meningkatnya intensitas hujan akibat perubahan iklim.

Imbauan kepada Masyarakat

BPBD Kudus mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah terpancing kabar yang belum terverifikasi. Kesiapsiagaan warga menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak bencana, terutama dengan mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar.

Warga juga diminta menyiapkan langkah antisipasi sederhana, seperti membersihkan saluran air di sekitar rumah, menghindari aktivitas di lokasi rawan longsor saat hujan deras, serta menyiapkan tas siaga bencana.

Penutup

Hujan deras yang memicu banjir dan longsor di Kudus menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah ini. Dengan respons cepat dari BPBD dan Pemkab Kudus, diharapkan dampak bencana dapat diminimalkan dan keselamatan warga tetap terjaga.

Ke depan, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana, tidak hanya dalam penanganan darurat, tetapi juga dalam upaya pencegahan dan mitigasi jangka panjang demi Kudus yang lebih tangguh dan aman.

Baca Juga : Bupati Tangerang Gelar Jumat Keliling dan Salurkan Bantuan

Cek Juga Artikel Dari Platform : otomotifmotorindo