Tren Kasus DBD di Denpasar Mengalami Penurunan
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Denpasar tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini menjadi sinyal positif atas berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat. Meski demikian, Dinas Kesehatan Kota Denpasar menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh membuat masyarakat lengah.
Penurunan kasus DBD dinilai sebagai hasil dari kombinasi berbagai langkah, mulai dari penyuluhan kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat, hingga intervensi teknis seperti fogging dan pemberantasan sarang nyamuk. Namun, karakteristik penyakit DBD yang sangat dipengaruhi faktor lingkungan dan perilaku membuat potensi lonjakan kasus tetap ada, terutama saat musim hujan.
Dinkes Tekankan Kewaspadaan Bersama
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Anak Agung Ayu Agung Candrawati, menegaskan bahwa pencegahan dan pengendalian DBD tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam memutus siklus penularan nyamuk Aedes aegypti.
Ia mengimbau seluruh warga untuk terus melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dan serentak. Menurutnya, PSN merupakan langkah paling efektif dan berkelanjutan dalam menekan populasi nyamuk penular DBD. Tanpa keterlibatan masyarakat, upaya teknis pemerintah tidak akan memberikan hasil optimal.
Gerakan PSN sebagai Garda Terdepan Pencegahan
PSN menjadi fondasi utama dalam pencegahan DBD karena menyasar langsung sumber perkembangbiakan nyamuk. Gerakan ini mencakup langkah 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Tambahan “Plus” mencakup berbagai tindakan pendukung seperti menggunakan kelambu, obat anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, serta menaburkan bubuk abate di tempat yang sulit dikuras. Dinkes Denpasar menilai bahwa konsistensi pelaksanaan PSN di tingkat rumah tangga masih menjadi tantangan yang perlu terus diperkuat.
Edukasi Masyarakat dan Penyelidikan Epidemiologi
Selain PSN, Dinkes Denpasar juga aktif melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat terkait bahaya DBD. Edukasi ini dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari penyuluhan langsung di lingkungan banjar, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.
Setiap kasus DBD yang terlapor juga ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui pola penularan, lingkungan sekitar penderita, serta potensi adanya kasus lain yang belum terdeteksi. Bahkan pada kasus kematian akibat DBD, penyelidikan dilakukan secara lebih mendalam untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Fogging Fokus dan Fogging Massal ULV
Dinkes Denpasar menegaskan bahwa fogging bukanlah solusi utama, melainkan langkah tambahan dalam pengendalian DBD. Fogging fokus dilakukan berdasarkan indikasi epidemiologis, yakni ketika ditemukan kasus DBD di suatu wilayah dengan risiko penularan tinggi.
Selain fogging fokus, pemerintah kota juga melaksanakan fogging massal menggunakan metode Ultra Low Volume (ULV) sebanyak dua kali dalam setahun. Kegiatan ini dilakukan menjelang akhir musim hujan dan menjelang awal musim hujan. Sepanjang 2025, fogging ULV dilaksanakan pada April dan September di jalan-jalan utama serta wilayah desa dan kelurahan.
Penaburan Abate dan Gertak PSN
Upaya lain yang terus digencarkan adalah penaburan bubuk abate di titik-titik genangan air yang sulit dijangkau. Langkah ini penting untuk mencegah jentik nyamuk berkembang di lokasi yang tidak memungkinkan untuk dikuras secara rutin.
Dinkes juga mendorong pelaksanaan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gertak PSN) secara berkala. Gerakan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari aparat desa, kader kesehatan, hingga warga setempat, guna menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas jentik.
Penguatan Deteksi Dini di Puskesmas
Untuk mempercepat diagnosis dan penanganan DBD, fasilitas laboratorium di seluruh UPTD Puskesmas kecamatan se-Denpasar telah disiapkan agar mampu mendeteksi kasus secara dini. Deteksi cepat dinilai sangat penting untuk menekan angka kematian akibat DBD.
Menurut Candrawati, masih ditemukan kasus di mana penderita datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi sudah kritis. Hal ini sering kali disebabkan kurangnya pemahaman terhadap gejala awal DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri belakang mata, dan lemas.
Pentingnya Mengenali Gejala Dini DBD
Dinkes Denpasar mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan demam, terutama jika berlangsung lebih dari dua hari. Pemeriksaan dini ke fasilitas kesehatan dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah komplikasi serius.
Candrawati menegaskan bahwa keterlambatan penanganan menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko kematian akibat DBD. Oleh karena itu, edukasi mengenai tanda bahaya DBD terus digencarkan agar masyarakat lebih waspada dan sigap mencari pertolongan medis.
Peran PHBS dan Jumantik Mandiri
Selain PSN, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi bagian tak terpisahkan dari pencegahan DBD. Lingkungan yang bersih, pengelolaan sampah yang baik, serta kebiasaan menjaga kebersihan rumah dapat menurunkan risiko perkembangbiakan nyamuk.
Dinkes Denpasar juga mendorong penguatan peran juru pemantau jentik (jumantik) mandiri di setiap rumah tangga. Dengan adanya jumantik mandiri, pemantauan jentik dapat dilakukan secara rutin dan berkesinambungan tanpa menunggu program pemerintah.
Penurunan Kasus Bukan Alasan Lengah
Meski tren kasus DBD di Denpasar menunjukkan penurunan, Dinkes menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kasus DBD dapat meningkat kembali dengan cepat jika upaya pencegahan melemah.
Perubahan cuaca, curah hujan tinggi, serta mobilitas penduduk yang padat membuat Denpasar tetap rentan terhadap DBD. Karena itu, konsistensi PSN dan kesadaran masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.
Ajakan Bersama Jaga Denpasar Bebas DBD
Di akhir imbauannya, Dinkes Denpasar mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD. Pencegahan dinilai jauh lebih efektif dan murah dibandingkan pengobatan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Denpasar diharapkan mampu mempertahankan tren penurunan kasus DBD sekaligus melindungi warganya dari ancaman penyakit yang dapat berakibat fatal ini.
Baca juga : Puspa Negara: Pariwisata Bali Seperti Bom-Bom Car, Bergerak Tanpa Arah
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : updatecepat

