Dugaan tercampurnya air pada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lamongan menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Menindaklanjuti informasi tersebut, aparat kepolisian bergerak cepat melakukan pengecekan langsung di lokasi guna memastikan kebenaran keluhan masyarakat sekaligus memberikan perlindungan terhadap konsumen.
Satuan Reserse Kriminal Polres Lamongan turun langsung ke SPBU 54.622.05 Desa Banaran, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Langkah ini diambil setelah beredarnya video dan unggahan keluhan masyarakat melalui akun Instagram Info Babat yang menyebut adanya BBM Pertalite tercampur air.
Viral di Media Sosial, Polisi Lakukan Respons Cepat
Informasi awal mengenai dugaan BBM bermasalah tersebut pertama kali muncul di media sosial pada Selasa malam. Unggahan tersebut memperlihatkan keluhan konsumen yang mengaku mengalami gangguan mesin kendaraan setelah mengisi Pertalite di SPBU Banaran.
Merespons cepat laporan publik tersebut, personel Satreskrim Polres Lamongan bersama Unit Reskrim Polsek Babat langsung mendatangi lokasi. Pengecekan lapangan dilakukan pada Selasa malam, 23 Desember 2025, sekitar pukul 22.00 WIB hingga selesai.
Langkah cepat ini bertujuan untuk mencegah meluasnya dampak kerugian terhadap konsumen serta memastikan pelayanan BBM tetap berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Klarifikasi Resmi Kepolisian
Kasi Humas Polres Lamongan, M. Hamzaid, menjelaskan bahwa pengecekan dilakukan sebagai tindak lanjut atas informasi yang berkembang di media sosial.
Menurutnya, kepolisian berkewajiban menindaklanjuti setiap laporan masyarakat yang berpotensi merugikan konsumen, terlebih menyangkut kebutuhan vital seperti BBM.
Ia menegaskan bahwa proses pengecekan dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak pengelola SPBU setempat agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Keluhan Konsumen dan Gangguan Kendaraan
Dari hasil klarifikasi awal, diketahui bahwa komplain pelanggan terjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Tercatat sedikitnya delapan pelanggan pengguna sepeda motor jenis matic mengalami gangguan mesin setelah mengisi BBM Pertalite di Pulau 2 atau Dispenser 2 SPBU Banaran.
Keluhan yang dialami konsumen cukup beragam. Beberapa kendaraan tidak bisa distarter, sementara sebagian lainnya mengalami mesin mati total sesaat setelah meninggalkan area SPBU.
Situasi tersebut memicu kepanikan dan keresahan konsumen, mengingat gangguan mesin terjadi secara beruntun dalam waktu singkat setelah pengisian BBM.
SPBU Tutup Sementara Dispenser Bermasalah
Menyikapi adanya keluhan tersebut, pihak pengelola SPBU Banaran langsung mengambil langkah awal dengan menutup pelayanan pengisian BBM di Pulau 2 sekitar pukul 20.30 WIB.
Penutupan sementara ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar tidak ada konsumen lain yang terdampak sebelum dilakukan pengecekan lebih lanjut.
Operator SPBU kemudian mengambil sampel BBM Pertalite dari dispenser tersebut dan memasukkannya ke dalam botol air mineral untuk dilakukan pemeriksaan visual.
Hasil Pemeriksaan Visual BBM
Dari hasil pengamatan awal secara visual, BBM Pertalite yang diambil sebagai sampel tampak berwarna biru keputihan. Warna ini berbeda dari karakteristik normal Pertalite, sehingga menimbulkan dugaan kuat adanya campuran air di dalam BBM tersebut.
Temuan ini kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian yang berada di lokasi. Polisi bersama pengelola SPBU melanjutkan pemeriksaan secara lebih teknis terhadap sumber penyimpanan BBM.
Pemeriksaan Tangki Pendam BBM
Petugas kepolisian bersama pihak SPBU melakukan pemeriksaan terhadap tandon bawah tanah atau tangki pendam BBM Pertalite. Tangki tersebut diketahui masih berisi sekitar 5.000 liter BBM.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan pasta air khusus yang berfungsi mendeteksi keberadaan air di dalam tangki BBM. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan adanya campuran air dengan ketinggian sekitar delapan sentimeter di bagian dasar tangki pendam.
Temuan ini menguatkan dugaan bahwa sebagian BBM Pertalite yang disalurkan ke konsumen telah tercampur air.
Dugaan Penyebab Masuknya Air
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, campuran air di dalam tangki pendam diduga berasal dari rembesan air hujan. Air tersebut diduga masuk melalui penutup tandon yang tidak sepenuhnya kedap.
Kondisi cuaca dengan intensitas hujan tinggi belakangan ini turut menjadi faktor yang memperbesar risiko rembesan air ke dalam sistem penyimpanan BBM.
Meski demikian, kepolisian menegaskan bahwa dugaan penyebab ini masih akan didalami lebih lanjut melalui klarifikasi dan koordinasi dengan pihak terkait.
Tanggung Jawab SPBU kepada Konsumen
Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak SPBU Banaran telah menindaklanjuti keluhan konsumen dengan memberikan uang ganti rugi. Selain itu, kendaraan pelanggan yang terdampak gangguan mesin dibawa ke bengkel untuk dilakukan perbaikan.
Langkah ini diambil guna memastikan kerugian konsumen dapat tertangani serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan SPBU.
Kepolisian menilai langkah tersebut sebagai bentuk itikad baik, namun proses klarifikasi tetap akan berjalan sesuai prosedur.
Koordinasi dengan Pertamina dan Langkah Lanjutan
Lebih lanjut, IPDA M. Hamzaid menyampaikan bahwa Satreskrim Polres Lamongan akan melakukan klarifikasi lebih mendalam terhadap pihak SPBU, baik pengawas maupun operator.
Selain itu, kepolisian juga berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga wilayah Surabaya untuk memastikan standar distribusi dan pengawasan BBM berjalan sesuai ketentuan.
Koordinasi ini penting untuk mencegah kejadian serupa terulang, tidak hanya di SPBU Banaran, tetapi juga di SPBU lain di wilayah Lamongan.
Perlindungan Konsumen Jadi Prioritas
Polres Lamongan menegaskan bahwa perlindungan konsumen menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus ini. BBM merupakan kebutuhan vital masyarakat, sehingga kualitas dan keamanannya harus dijaga secara ketat.
Kepolisian mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila mengalami kejadian serupa, agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat.
Penutup: Pengawasan Diperketat Demi Kepercayaan Publik
Kasus dugaan BBM Pertalite tercampur air di SPBU Banaran Lamongan menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap distribusi BBM. Respons cepat kepolisian dan langkah tanggung jawab dari pihak SPBU diharapkan dapat meredam keresahan masyarakat.
Polres Lamongan memastikan akan terus memantau perkembangan kasus ini hingga tuntas. Dengan pengawasan berkelanjutan dan koordinasi lintas pihak, diharapkan kepercayaan publik terhadap layanan SPBU tetap terjaga dan kejadian serupa tidak terulang kembali.
Baca Juga : Keributan Kursi Prioritas KRL Kembali Jadi Sorotan
Jangan Lewatkan Info Penting Dariย :ย beritajalan

